Usaha Makanan di Bali Mulai Ramai? Cek Lagi Cara Packing-nya
Buat pelaku UMKM makanan di Bali, packing manual mungkin masih terasa cukup saat jumlah pesanan belum terlalu banyak.
Sambal, keripik, kopi, bumbu, frozen food, sampai oleh-oleh khas Bali bisa dikemas satu per satu oleh tim produksi.
Masalah biasanya mulai terasa ketika pesanan bertambah.
Produk sudah selesai dibuat, tetapi proses memasukkan produk ke kemasan, menutup, atau memberi label membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Kalau sudah seperti ini, mungkin bukan produknya yang perlu diubah, tetapi proses packing-nya.
Tidak Perlu Langsung Mengubah Semua
Mengurangi packing manual bukan berarti semua tahapan harus langsung menggunakan mesin.
Justru, mulai dari proses yang paling berat.
Coba perhatikan pekerjaan yang paling sering membuat tim kewalahan setiap hari.
Apakah harus menakar isi satu per satu?
Apakah mengisi kemasan membutuhkan waktu lama?
Atau proses menutup kemasan yang membuat produk menumpuk?
Cari satu titik yang paling banyak menghabiskan waktu. Dari situlah evaluasi bisa dimulai.
Hitung Berapa Banyak Waktu yang Terbuang
Supaya lebih jelas, coba catat waktu yang dibutuhkan.
Misalnya usaha oleh-oleh di Bali harus mengemas 500 bungkus keripik setiap hari. Kalau proses pengisian dan penutupan dilakukan manual dan membutuhkan beberapa jam, berarti ada waktu produksi yang cukup besar terserap di bagian packing.
Begitu juga dengan usaha sambal atau bumbu kemasan.
Semakin banyak produk yang harus dikemas, semakin terasa beban pekerjaan berulang tersebut.
Dari sini bisa terlihat apakah packing manual masih efisien atau sudah mulai menjadi hambatan.
Sesuaikan Mesin dengan Produk
Setelah menemukan proses yang paling berat, jangan langsung memilih mesin berdasarkan kapasitas saja.
Lihat dulu produknya.
Sambal dan saus membutuhkan sistem pengisian yang berbeda dengan kopi bubuk atau bumbu bubuk. Keripik dan makanan padat juga memiliki kebutuhan packaging yang berbeda.
Bentuk kemasan ikut menentukan.
Pouch, sachet, botol, dan jenis kemasan lainnya tidak selalu menggunakan mesin yang sama.
Karena itu, mesin packing makanan Bali harus dipilih berdasarkan produk, kemasan, dan proses yang ingin dibantu.
Contohnya, Mulai dari Satu Proses
Misalnya pelaku usaha sambal di Bali merasa proses mengisi kemasan adalah bagian paling lama.
Tidak perlu langsung mengubah seluruh sistem packaging.
Fokus dulu pada proses filling.
Begitu juga jika masalah utamanya ada pada penutupan kemasan. Evaluasi bagian tersebut terlebih dahulu.
Cara seperti ini membuat penggunaan mesin lebih terarah dan memudahkan usaha melihat dampaknya terhadap waktu kerja.
Cocok untuk Usaha yang Sedang Berkembang
Pendekatan bertahap bisa diterapkan oleh berbagai usaha makanan di Bali.
Mulai dari usaha rumahan yang pesanan hariannya meningkat, produsen oleh-oleh yang mulai masuk toko, sampai UMKM yang mulai mengirim produk ke luar Bali.
Kebutuhannya memang berbeda-beda.
Ada yang hanya membutuhkan bantuan pada satu proses, ada juga yang sudah membutuhkan sistem packaging dengan kapasitas lebih tinggi.
Yang penting, mesin mengikuti perkembangan usaha.
Jangan Tunggu Sampai Packing Menumpuk
Kalau produk sudah selesai dibuat tetapi masih menunggu lama untuk dikemas, itu tanda proses packaging perlu diperhatikan.
Coba mulai dari pekerjaan yang paling berat, hitung waktunya, lalu tentukan apakah proses tersebut bisa dibantu mesin.
Tidak harus langsung semuanya.
Dengan memilih proses yang tepat, mesin packaging UMKM bisa membantu mengurangi pekerjaan berulang dan membuat alur packing lebih teratur.
Untuk melihat pilihan mesin pengemasan yang bisa disesuaikan dengan jenis produk dan kebutuhan usaha, kamu bisa melihat Website Resmi POWERPACK.
Alamat Showroom Bali
FOMAC & POWERPACK
Jl. Gatot Subroto Tim. No.36A, Kesiman Kertalangu, Kec. Denpasar Tim., Kota Denpasar, Bali 80239
Telepon: (021) 2951 4991
WhatsApp: 0812-1323-9988